Apakah Nyepi Itu Hari Raya?

Apakah Nyepi Itu Hari Raya?

Nyepi

Nyepi adalah hari pergantian tahun Saka yang dirayakan setiap kurang lebih satu tahun sekali. Nyepi tepatnya  jatuh pada sehari sesudah tileming kesanga pada tanggal 1 sasih Kedasa. Pelaksanaan hari Nyepi lebih menitikberatkan pada “Catur Brata Penyepian”, yaitu:

  • Amati Geni  = tidak menyalakan api termasuk api hawa nafsu.
  • Amati Karya = tidak melakukan aktifitas kerja rutin.
  • Amati Lelunganan = tidak bepergian.
  • Amati Lelanguan = tidak bersenang-senang atau menghentikan kegiatan hiburan.

Jadi, melihat titik berat pelaksanaan Hari Nyepi tersebut, apakah tepat jika Nyepi itu disebut sebagai “Hari Raya” yang berkonotasi pada kesemarakan dan atau hari untuk bersuka-ria?

Kemudian saya mencoba mencari tahu hal ini. Mulai dari berselancar di dunia maya dengan mengunjungi situs-situs terpercaya yang mungkin membahas tentang hal ini. Namun, saya tidak mendapatkan titik cerah. Bahkan kebanyakan dari media tersebut sudah dari awal mendefinisikan Nyepi sebagai hari raya dengan menyebutkan, “Hari Raya Nyepi adalah hari…..” yang menurut saya kurang pas.

Akhirnya secara tidak sengaja saya menemukan referensi terpercaya (menurut saya) dari sebuah buku berjudul “Lima Cara Beryajna” yang ditulis oleh I Gusti Ketut Widana. Di sana disebutkan bahwa seringkali suatu istilah telah lumrah digunakan meskipun sebenarnya tidak sesuai dengan arti dan hakikatnya. Secara harfiah istilah “Hari Raya Nyepi” memang mengandung makna yang kontradiktif. Disebut “Hari Raya” berarti Nyepi itu dirayakan dengan kemeriahan, suka cita bahkan dipestakan. Sementara hakikat Nyepi itu sendiri adalah melaksanakan dengan penuh Sradha dan Bhakti “Catur Brata Penyepian”.

Sehingga inti dari hari Nyepi adalah pengendalian diri. Dengan menilik arti dan hakikatnya, maka istilah “hari raya” untuk Nyepi kurang tepat. Sedangkan untuk hari/rerainan lain seperti Galungan, Kuningan, Saraswati, dan Pagerwesi, masih bisa disebut sebagai “hari raya”, meski aspek pengendalian diri selalu tetap ada.

Terkait dengan kesalahkaprahan ini, Beliau juga menyinggung ucapan-ucapan selamat untuk Hari Nyepi yang juga “kadung pelih”. Misalnya yang sudah biasa adalah:

Selamat Hari Raya Nyepi”.

Karena konteks “hari raya” tidak tepat dengan hakikat Nyepi, maka ucapan yang sebaiknya digunakan adalah:

Selamat Menjalankan Brata Nyepi dan Tahun Baru Saka

Atau:

Selamat menunaikan Brata Penyepian dan Tahun Baru Saka”.

Meski agak panjang, tetapi karena kita diharapkan berupaya membangun sebuah kebenaran, bukan sebuah kesalahkaprahan maka hal ini patut dilaksanakan. Ucapan yang panjang ini, menurut I Gusti Ketut Widana, juga dimaksudkan untuk mengingatkan umat bahwa ada dua aspek yang hendak dicapai melalui Nyepi yaitu:

  • Aspek internal, yaitu kewajiban umat untuk menjalankan Catur Brata Penyepian dengan sungguh-sungguh dan tulus. Tidak seperti selama ini yang secara jujur harus diakui cukup banyak umat Hindu yang melaksanakan hakikat Nyepi yang “sepi” itu dengan kegiatan “ramai-ramai”, termasuk “maceki” dan “metajen”.
  • Aspek eksternal, yaitu berupa kewajiban umat untuk mengokohkan sendi-sendi “pasemetonan” atau kekeluargaan melalui pelaksanaan tradisi “masima krama”.

Diharapkan dengan adanya pembahasan ini, tidak ada kesalahkaprahan lagi tentang arti, hakikat dan tujuan sebenarnya dari pelaksanaan Nyepi. Sehingga dengan kesadaran ini akan dapat mengokohkan eksistensi umat Hindu yang pada gilirannya nanti berimbas pada hubungan harmonis dengan umat beragama lain dalam suasana yang damai.

Share

7 Responses to Apakah Nyepi Itu Hari Raya?

  1. jarwadi says:

    tanya pak, apa beda pati geni dengan amati geni :) jarwadi´s last Blog: Helm Untuk Anak Kecil. Penting!

    • adiarta says:

      wah, saya juga baru mendengar istilah ini. setelah saya googling, pati geni: adalah suatu puasa dan meditasi yang dilakukan di tempat sepi tanpa ada cahaya dgn tujuan mematikan unsur api di dalam tubuh pisik maupun rohani, sebagaimana yang dijalani oleh para leluhur di tanah Jawa, dan dijalani langsung oleh Sunan Kalijaga (baca selengkapnya di: wongalus.wordpress.com/2009/10/21/amalan-patigeni). jadi menurut saya, beda keduanya adalah dari tata cara dan hakikat pelaksanaan kegiatan tersebut. tentu saja beda tempat pula, antara jawa & bali. :D amati geni pada nyepi tidak menuntut untuk melakukan puasa dan meditasi di tempat-tempat gelap, tetapi lebih kepada kesadaran umat mengendalikan hawa nafsu sesuai kemampuannya. hanya untuk keseragaman dan ketertiban, disarankan untuk tidak menyalakan lampu atau api..
      menurut saya seperti itu, mohon maaf bila kurang berkenan d hati… :)

  2. imadewira says:

    Menurut Wikipedia :

    “Hari raya adalah sebuah hari yang khusus. Hari khusus ini berbeda-beda di setiap negara atau kebudayaan. Hari raya biasanya ditandai dengan perayaan-perayaan bagi kelompok yang bersangkutan dan mungkin juga dengan diliburkannya kantor dan sekolah secara umum.”

    Menurut saya tidak ada yang salah dengan penyebutan “hari raya” karena “raya” bisa diartikan “besar”. Jadi bisa diartikan hari raya = hari besar. Hari Raya agama Hindu bisa diartikan hari besar/spesial/khusus menurut agama Hindu.

    Jadi “hari raya” tidak selalu berarti hura-hura, perayaan tidak selalu berarti foya-foya.
    imadewira´s last Blog: Toleransi Umat Hindu Pada Nyepi di Bali

    • Agung Pushandaka says:

      Saya setuju dengan Bli Wira. Kata “raya” dalam konteks ini berarti “besar”. Maka penyebutan Hari Raya Nyepi bermakna Hari Besar.

      Selamat menyambut Hari Raya Nyepi bagi seluruh umat yang merayakannya. :)

    • adiarta says:

      ternyata saya kalah suara nih, mungkin pendapat saya tentang nyepi bukanlah hari raya harus diubah mulai sekarang, hehehe…

  3. Suke says:

    sesekali perlu nyepi juga,
    setiap hari terlalu sibuk,
    urusan diniawi,
    dan segala sesuatu yang berbau duit,
    oh…
    Suke´s last Blog: Staff Administrasi dan Agronomist PT Bisi International

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv
:D :-) :( :o 8O :? 8) :lol: :x :P :oops: :cry: :evil: :twisted: :roll: :wink: :!: :?: :idea: :arrow: :| :mrgreen:
Baca juga artikel berikut iniclose